RASIONALITAS


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgh_37t5nNTA9bPc_ML433PS2DvdwR3-XHqOiKChCL65RmKeG7S5xnnuvof0hjZfBA1PiETG9YZpFPsyxdrHhnDrUO0MfAyFp9cwspErNu7FOOg4xlzNmpMTqkrXufEoSot79rPS0K2PHk/s1600/Mukjizat+Otak.jpg

Masalah rasionalitas, mempunyai dua sisi, yakni secara teoritis dan praktis. Rasionalitas semata-mata berarti kebiasaan memperhitungkan segenap hal yang relevan sebelum menetapkan keyakinan. Jadi, jika kepastian tak mungkin dicapai, seorang rasional akan memilih pendapat yang mendekati kebenaran dengan tidak membuang pendapat-pendapat lainnya yang juga berkemungkinan untuk benar sebagai suatu hipetesis yang didukung oleh bukti-bukti baru sebagai lebih benar. Rasionalitas menggunakan suatu metode yang objektif yakni suatu metode yang akan membawa dua orang yang sama hati-hatinya pada kesimpulan yang sama. Seorang rasional memberdayakan fungsi rasio (akal budi) untuk mengusahakan terpenuhinya hasrat-hasrat dan kebutuhan-kebutuhan individu. Dalam outline of psycology menyatakan : “lebih dari segala hal lainnya akal budi adalah suatu alat keberpihakan”, artinya akal budi menjaga agar tindakan yang menguntungkan individu atau spesies manusia itulah yang terlaksana dan mencegah tindakan-tindakan yang tidak begitu menguntungkan. Dalam hal kajian praktis rasionalitas berkaitan dengan kepercayaan pada kenyataan obyektif. Hal ini berarti jika disuatu tempat kenyataan bisa dijadikan sebagai bukti pembenaran bagi kepercayaan kita makaharus dijadikan sebagai pembenaran dimana pun. Jika itu tidak bisa diterapkan, orangpun terbawa kepada agnositisme. William l. Rowe mengartikan agnositisme merupakan pandangan bahwa akal manusia tidak mampu secara rasional membenarkan keyakinan tentang teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa dan lainnya karena pikiran manusia yang terbatas. Hal ini berarti angositisme mengandung unsur skeptisisme seperti yang disebutkan huxley bahwa agnositisme bukan sebagai kredo melainkan sebagai metode penyelidikan skeptik berbasis bukti.
Soal obyektivitas kenyataan selalu dipersulit dengan pertimbangan-pertimbangan pengaburan yang dilakukan oleh orang-orang kuat. Kepercayaan kita sering bertentangan dengan fakta. Meskipun jika kita hanya berpendapat bahwa berdasarkan bukti sesuatu itu mungkin, bisa saja kita menyatakannya sebagai tidak mungkin atas bukti yang sama. Jadi bagian dari teoritis dan rasionalitas akan terdiri dari mendasarkan kepercayaan kita sehubungan dengan kenyataan pada bukti, dan bukan pada hasrat, prasangka, tradisi. Dalam hal ini, rasional mampu memutuskan perkara yang sifatnya ilmiah.
Dalam praktek, rasionalitas bisa dikakatakn sebagai kebiasaan untuk mengingat hasrat-hasrat kita yang relevan, dan bukan dengan hasrat yang kebetulan paling kuat sekarang. Rasionalitas mutlak jelas adalah suatu ideal yang tidak mungkin tercapai. Rasionalitas membantu kita menyadari hasrat-hasrat kita secara keseluruhan. Hakikatnya akal budilah menjadi pengendali atas tindakan-tindakan kita dalam kehidupan sosial dan menjadi pemberi solusi atas penyakit yang ditanggungkan dunia.



Komentar

Postingan Populer