RASIONALITAS
Masalah
rasionalitas, mempunyai dua sisi, yakni secara teoritis dan praktis. Rasionalitas
semata-mata berarti kebiasaan memperhitungkan segenap hal yang relevan sebelum
menetapkan keyakinan. Jadi, jika kepastian tak mungkin dicapai, seorang
rasional akan memilih pendapat yang mendekati kebenaran dengan tidak membuang
pendapat-pendapat lainnya yang juga berkemungkinan untuk benar sebagai suatu
hipetesis yang didukung oleh bukti-bukti baru sebagai lebih benar. Rasionalitas
menggunakan suatu metode yang objektif yakni suatu metode yang akan membawa dua
orang yang sama hati-hatinya pada kesimpulan yang sama. Seorang rasional
memberdayakan fungsi rasio (akal budi) untuk mengusahakan terpenuhinya
hasrat-hasrat dan kebutuhan-kebutuhan individu. Dalam outline of psycology
menyatakan : “lebih dari segala hal lainnya akal budi adalah suatu alat
keberpihakan”, artinya akal budi menjaga agar tindakan yang menguntungkan
individu atau spesies manusia itulah yang terlaksana dan mencegah
tindakan-tindakan yang tidak begitu menguntungkan. Dalam hal kajian praktis
rasionalitas berkaitan dengan kepercayaan pada kenyataan obyektif. Hal ini
berarti jika disuatu tempat kenyataan bisa dijadikan sebagai bukti pembenaran
bagi kepercayaan kita makaharus dijadikan sebagai pembenaran dimana pun. Jika itu
tidak bisa diterapkan, orangpun terbawa kepada agnositisme. William l. Rowe mengartikan
agnositisme merupakan pandangan bahwa akal manusia tidak mampu secara rasional
membenarkan keyakinan tentang teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa dan lainnya
karena pikiran manusia yang terbatas. Hal ini berarti angositisme mengandung
unsur skeptisisme seperti yang disebutkan huxley bahwa agnositisme bukan
sebagai kredo melainkan sebagai metode penyelidikan skeptik berbasis bukti.
Soal
obyektivitas kenyataan selalu dipersulit dengan pertimbangan-pertimbangan
pengaburan yang dilakukan oleh orang-orang kuat. Kepercayaan kita sering
bertentangan dengan fakta. Meskipun jika kita hanya berpendapat bahwa
berdasarkan bukti sesuatu itu mungkin, bisa saja kita menyatakannya sebagai
tidak mungkin atas bukti yang sama. Jadi bagian dari teoritis dan rasionalitas
akan terdiri dari mendasarkan kepercayaan kita sehubungan dengan kenyataan pada
bukti, dan bukan pada hasrat, prasangka, tradisi. Dalam hal ini, rasional mampu
memutuskan perkara yang sifatnya ilmiah.
Dalam
praktek, rasionalitas bisa dikakatakn sebagai kebiasaan untuk mengingat
hasrat-hasrat kita yang relevan, dan bukan dengan hasrat yang kebetulan paling
kuat sekarang. Rasionalitas mutlak jelas adalah suatu ideal yang tidak mungkin
tercapai. Rasionalitas membantu kita menyadari hasrat-hasrat kita secara
keseluruhan. Hakikatnya akal budilah menjadi pengendali atas tindakan-tindakan
kita dalam kehidupan sosial dan menjadi pemberi solusi atas penyakit yang
ditanggungkan dunia.


Komentar
Posting Komentar